Tak salah jika Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah jadi lokasi Kongres Sampah 2019. Warga desa tersebut, menurut kesaksian Kantor Berita Antara, terbiasa hidup bersih dengan mengelola sampah sesuai dengan jenisnya.

Kongres Sampah diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, seperti pengusaha, pemerintah, masyarakat, akademisi, aktivis, hingga pemulung, Sabtu-Minggu (12-13/10/2019). Tujuan Kongres Sampah adalah melahirkan sistematika persampahan hulu hingga hilir, dari produksi sampah hingga pemanfaatannya.

“Sejak di dalam rumah warga Kesongo telah memilah sampah antara organik dan nonorganik di kantong yang berbeda,” kata Mareta, warga Dusun Sejambu, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah,

Proses pemilahan sampah oleh warga itu telah dilakukan sejak dalam rumah melalui kantong-kantong sampah, yang kemudian setiap pagi dimasukkan ke keranjang terpisah. “Keranjangnya beda, ada dua keranjang, keranjang iso bosok dan keranjang ora iso bosok,” ujarnya.

Istilah yang digunakan memang sangat sederhana dan mudah dipahami siapapun sehingga memudahkan masyarakat untuk turut serta dalam gerakan itu. Keranjang iso bosok berarti dikhususkan untuk sampah-sampah yang bisa membusuk (organik). Sedangkan, keranjang ora iso bosok untuk sampah yang tidak bisa terurai atau membusuk (nonorganik).

Kendati demikian, Mareta mengatakan bahwa tidak semua sampah nonorganik dibuang ke tempat sampah. “Kami berikan ke tetangga yang membuat kerajinan dari sampah plastik. Ada yang dibuat kostum, bunga, topi dan lain-lain,” katanya.

Kepala Desa Kesongo Supriyadi menjelaskan bahwa untuk sampah yang di keranjang kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) oleh petugas dari desa. Petugas pengangkut sampah tersebut juga melanjutkan pemisahan sampah.

Sampah organik langsung masuk ke mobil bak terbuka, sedangkan sampah yang non-organik dimasukkan ke keranjang plastik. “Di TPS petugas tersebut kembali memilah, sampah yang bisa dimanfaatkan dikumpulkan sementara yang tidak bisa diangkut truk ke TPA,” ujarnya.

Ia menjelaskan apa yang dilakukan warga Desa Kesongo tersebut bukan karena embel-embel isu bahaya sampah atau semacamnya. Mereka hanya ingin lingkungannya bersih dan sekadar membantu tetangga yang membuat kerajinan berbahan plastik.

“Mulanya hanya dilakukan satu orang yang membuat kerajinan itu. Dia membuat kerajinan dari plastik itupun karena mulanya jengkel got depan rumahnya banyak tersumbat sampah plastik. Akhirnya warga sini saling getok tular, saking memberi tahu kalau ada sampah plastik jangan dibuang tapi diberikan ke perajin plastik itu,” katanya.

Setelah pihak desa membentuk satgas sampah yang dipimpin langsung oleh babinsa setempat, lanjut Supriyadi, pengelolaan sampah di Desa Kesongo semakin tertata. Disadari langkah itu mesti dilanjutkan dengan gerakan yang lebih besar.

“Kami bertekad kalau bisa desa ini tidak lagi mengirim sampah ke TPA. Semua harus bisa kami manfaatkan di sini, makanya kami bercita-cita membuat Taman Pendidikan Pengelolaan Sampah. Selain taman, juga ada Pendidikan Anak Usia Dini agar bisa menanamkan pengelolaan sampah dari dini. Master plan telah kami susun dengan tim KKN Undip,” ujarnya.

Saat ini, 200 kepala keluarga di Desa Kesongo telah memiliki keranjang iso bosok dan keranjang ora iso bosok. Ditargetkan pada 2021, seluruh warganya yang mencapai 2.800 kepala keluarga bakal memiliki dua keranjang tersebut di depan rumah masing-masing.

“Yang bisa membuat gerakan ini hanya punya sedikit hambatan adalah karena ini gerakan non-komersial dan swadaya. Jadi PR kami di pemerintahan desa adalah membuat manfaat lebih besar dari sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat,” katanya.

Leave a Reply