Berangkat dari kepedulian akan kondisi ekonomi warga desanya, Firman Setiaji (28) akhirnya memutuskan untuk memberdayakan warga Desa Kesongo, Tuntang Kabupaten Semarang, menjadi penrajin eceng gondok yang tumbuh subur di kampung yang terletak di sekitar Rawa Pening ini.
“Awal mula sebenarnya saya kasihan banyak warga yang mencari eceng tapi dihargai murah sekali, padahal mencari eceng gondok itu resikonya besar, harus ke tengah rawa. Satu kilogram eceng kering hanya dihargai 5 ribu, padahal kalau dibuat kerajinan sendiri harganya bisa berlipat lipat,” ujar Firman saat ditemui  dalam kegiatan pameran UMKM Gayeng di Lawang Sewu Kota Semaranf, Ahad (3/11)
Atas dasar itulah, alumni jurusan Kriminologi UI ini, mulai membuat berbagai macam produk kreatif berbahan dasar eceng gondok, seperti buku, sandal, tas, baju, apron hingga casing HP
“Tahun 2019 saya mulai membuat buku dari eceng, harganya 100 ribu dan itu laku keras. Jadi saya memutuskan untuk membuat produk lain, dan mulai menggandeng ibu ibu, dan pemuda di kampung saya untuk membantu,” imbuh Firman.
Sempat diremehkan, saat ini, kata Firman, sudah ada memberdayakan belasan ibu-ibu di desanya. Menggunakan sistem upah, ia berhasil meningkatkan nilai ekonomi dan daya jual eceng gondok di desanya.
“Sistemnya itu upah, tapi perajin biasanya yang menentukan harganya sendiri ke saya, jadi sama sama enak, bayangkan kalau dulu hanya jualan eceng kering saja tak mungkin bisa seperti ini,” imbuh Firman.
Sejauh ini, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pada produknya, Firman masih masih fokus pada pengembangan keterampilan karyawannya. “Ibu-ibu masih sering saya kasih pelatihan, supaya nanti ketika membuka gerai di Bali, sudah siap baik dari segi kuantitas atau kualitas,” ungkapnya.
Untuk memasarkan produknya, Firman membuka galeri sendiri bernama Bengok Craft di dusun Sejambu, Kesongo, Tuntang, Kabupaten Semarang. Atau mengunjungi laman bengokcraft.com

Leave a Reply