Limbah kotoran sapi yang diolah menjadi biogas menjadi solusi atas kemandirian energi desa di Jawa Tengah terutama di Kabupaten Semarang.

Triyoso, warga Kalisidi, terlihat lalu lalang memasukkan kotoran sapi ke dalam digester yang tertanam di kedalaman tanah di kandang komunal di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat. Bau tidak sedap dari kotoran sapi tidak lagi menjadi masalah untuknya.

“Sudah terbiasa mas,” kata Triyoso sambil tersenyum.

Triyoso, yang juga anggota Kelompok Tani Kandang Sidodadi menjelaskan bahwa digester tersebut berfungsi sebagai tampungan kotoran sapi dalam proses fermentasi menjadi biogas. Secara bergilir anggota kelompok tani akan memasukkan kotoran sapi yang telah dicampur dengan air dalam bak digester.

“Sebagian kotoran sapi digunakan untuk mengoperasikan biogas dan selebihnya digunakan untuk produksi pupuk kandang,” kata Triyoso yang juga Ketua Kelompok Kandang Sidodadi.

Pria paruh baya tersebut mengatakan kandang yang dia kelola menampung 100 sapi yang setiap harinya menghasilkan kotoran lebih dari 1500 kilogram. Bersama sekitar 70 warga lainnya, Triyoso mengelola biogas yang operasional awalnya dibantu mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Diponegoro.

“Gas yang dihasilkan dari biogas sebagian untuk memasak dan sebagian masuk ke genset untuk penerangan sekitaran kandang,” kata Triyoso, Senin (31/8/2020).

Kepala Desa Kalisidi, Dimas Prayitno Putra menyatakan Desa Kalisidi memiliki potensi besar dalam pengembangan program biogas di Kabupaten Semarang. Desa seluas 800 hektar ini merupakan penghasil susu terbesar di Kabupaten Semarang. Ribuan sapi diperah susunya setiap hari di kandang-kandang komunal milik kelompok tani.

Biogas sendiri merupakan hasil fermentasi baik itu kotoran hewan, limbah domestik, dan limbah organik lainnya. Biogas yang berasal dari kotoran sapi dapat dimanfaatkan antara lain sebagai bahan bakar, pembangkit listrik, penghasil energi panas, dan lampu penerangan. Sedangkan hasil samping dari alat biodigester dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Triyoso mengaku dirinya dan warga sangat terbantu dengan adanya biogas. Meski awalnya harus belajar mengoperasikan teknologi baru tersebut, namun manfaat yang mereka rasakan setelahnya ternyata sangat besar.

“Api dari biogas dapat menggantikan kayu atau gas saat memasak komboran sapi. Serta biaya listrik untuk penerangan malam hari. Kami bisa menghemat minimal Rp 100 ribu setiap bulannya,” katanya.

Jawa Tengah sendiri dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan kotoran sapi menjadi biogas. Jumlah ternak di daerah ini sangat melimpah dimana jumlah sapi diperkirakan sebanyak 1.715.204 ekor, babi 136.495 ekor dan kerbau 66.860 ekor.

Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan pemanfaatan biogas di provinsi ini terus meningkat dalam kurun waktu empat tahun terakhir, dari 2,57 persen pada 2016 menjadi 3,28 persen pada 2019. Di Kabupaten Semarang sendiri, tempat-tempat pengolahan biogas telah tersebar di seluruh daerahnya yang berjumlah 19 kecamatan.

Pakar energi terbarukan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Fahmi Arifan mengatakan bagi warga di beberapa desa di Kabupaten Semarang, biogas adalah solusi agar mereka dapat mandiri dalam sektor energi kelistrikan. Pemanfaatan biogas di daerah ini terbukti dapat menurunkan pengeluaran rumah tangga yang dulunya diperuntukkan untuk bahan bakar memasak, lampu penerangan, dan pembangkit generator.

“Penggunaan biogas juga dapat mengurangi penggunaan karbon dan gas LPG yang setiap tahunnya meningkat. Jadi dapat menghemat subsidi pemerintah,” katanya.

Hasil penelitian Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2017 memperkirakan potensi ekonomi dari kotoran sapi dan kerbau di seluruh Indonesia sebagai energi alternatif mencapai Rp64,3 triliun/tahun. Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas, menurut penelitian ini, selain menghasilkan gas metan untuk memasak, juga mengurangi pencemaran lingkungan, menghasilkan pupuk organik dan mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian bahan bakar minyak bumi yang tidak bisa diperbaharui.

Fahmi mengatakan program biogas juga mendorong pemberdayaan masyarakat lokal seperti yang terjadi di Desa Kalisidi, dimana sebagian masyarakat telah belajar memanfaatkan sumber daya yang ada dengan cara yang ramah lingkungan. Contohnya seperti memelihara ternak dan memanfaatkan kotorannya untuk pupuk lahan pertanian, serta menanam sayur-mayur untuk kebutuhan pangan sehari-hari sementara limbahnya untuk pakan ternak.

Lebih lanjut, Fahmi mengatakan program biogas dari limbah kotoran sapi ini dapat mendorong masyarakat untuk terlibat dalam upaya mengatasi pemanasan global (global warming), perubahan iklim (climate change) dan substitusi kebutuhan energi nasional dari bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui.

Leave a Reply