Guna penataan Desa Wisata Lerep di Kabupaten Semarang, maka warga perlu kawal konservasi lingkungan. Sebab penataan di sini bukan sebatas konsep pariwisata dan sumber daya manusia, tetapi juga pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan wisata.

Oleh sebab itu Tim Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes) lewat kegiatan pengabdian di Balai Desa Lerep, sekaligus memberi pemahaman masyarakat mengawal penataan ruangnya. Ketua Tim Pengabdian FH Unnes, Aprila Niravita menegaskan, peran masyarakat diperlukan untuk mewujudkan penataan ruang yang baik serta memperhatikan konservasi lingkungan.

Menjaga kelestarian alam dan lingkungan, harus menjadi prioritas pembangunan dalam mewujudkan desa wisata Lerep yang sadar tata ruang. “Kontrol masyarakat diperlukan, karena mereka punya hak berpartisipasi dalam perencanaan ruang. Masyarakat harus paham kondisi ruang desa, sehingga potensi yang ada bisa dimanfaatkan sesuai pola ruangnya,” jelas Aprila, saat memberi paparan dalam pertemuan yang dihadiri Kepala Desa Lerep, Sumariyadi, seluruh perangkat desa, kepala dusun, perwakilan Badan Pemusyawaratan Desa dan Badan Usaha Milik Desa.

Jadi, ketika ada investor membangun desa wisata, maka masyarakat bisa ikut mengendalikan pemanfaatan ruangnya. Selanjutnya, pengabdian dilanjutkan dengan pendampingan untuk pemetaan desa Lerep dan dikuatkan dengan peraturan desa dalam penataan ruang. Selain Aprila, tim pengabdian kegiatan tersebut Suhadi, Rofi Wahanisa, Rahayu Fery Anitasari, dan Bayangsari Wedhatami. Dalam kesempatan ini juga dihadirkan secara daring narasumber ahli perencanaan kota dari Masterplan desa Yogyakarta, Endah Dwi Fardhani.

“Jangan sampai ada penyimpangan dan pelanggaran pemanfaatan ruang, karenanya partisipasi masyarakat dibutuhkan sejak tahap perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian dalam penataan ruang,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kades Lerep, Sumariyadi menyampaikan, perencanaan tata ruang sejatinya bagian dari desa untuk menata, memanfaatkan, dan mengelola wilayahnya sebagai kewenangan yang dimiliki desa, termasuk pengembangan kepariwisataannya.

“Walau pemanfaatan ruang masih sederhana, tapi tetap perlu ada perencanaan agar desa tetap terjaga lingkungan dan budaya tetap seimbang,” jelasnya.

Daya tarik Lerep ini di antaranya ada air terjun Indrokilo dan wisata outbound. Ada juga pawai obor, musik, api unggun, serta pasar jajanan tradisional desa.

Leave a Reply