Pemerintah Pusat lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membangun bendungan raksasa. Namanya Bendungan Jragung. Bendungan ini akan memanfaatkan daerah aliran sungai Jragung. Proyek ini akan menenggelamkan Dusun Kedung Glatik, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus. Dusun Kedung Glatik cukup terpencil. Jarak dusun ini dengan pusat pelayanan Desa Candirejo sekitar empat kilometer. Jalan menuju dusun tidak mulus. Apalagi musim hujan sulit dilalui kendaraan.

Puluhan tahun warga Dusun Kedung Glatik bertahan dengan predikat desa terisolasi. Bukan tak mau menjadi dusun maju, namun memang tidak ada program yang menyentuh dusun tersebut. Dusun ini terdiri atas tiga RT dan satu RW. Dihuni 110 kepala keluarga (KK) dengan 90 rumah dan satu masjid. Kepala Dusun Kedung Glatik Taswanto mengungkapkan, jarak rumah warga yang terlalu dekat dengan sungai membuat warga kerap dicekam rasa waswas setiap kali hujan deras. Rata-rata rumah warga terbuat dari kayu. Sebab, untuk membangun rumah berdinding tembok, warga kesulitan saat akan mengangkut material ke dusun tersebut. Rumah kayu juga untuk memudahkan warga jika sewaktu-waktu dipindahkan saat musim penghujan tiba. Setiap rumah selalu diberikan tumpukan batu kali kecil sebagai penompang. Sehingga mudah untuk diangkat. “Tiap tahun ada dua atau tiga rumah yang terancam kena banjir sungai situ. Saat ini ada tiga rumah yang terancam dan harus dipindahkan,” katanya. Taswanto mengingat sebelumnya ada 100 rumah kayu di dusun ini. Sepuluh rumah lainnya terendam hingga hanyut ketika musim penghujan. Ketika ada program pemerintah pusat akan dibangun bendungan raksasa tidak ada warga yang protes. Justru warga menginginkan segera terealisasi. Impian memiliki tempat tinggal yang dekat dengan pusat pelayanan mulai terdengar di telinga warga. Meskipun belum dipastikan tempat relokasinya.

“Senang kami, hari ini suruh pindah pun kami siap. Katanya ada dua alternatif tempat relokasi, yakni di lahan Perhutani dan satunya di lahan pribadi Pak Heri, warga Semarang,”lanjutnya. Dikatakan, tempat relokasi ke lahan pertanian dinilai membutuhkan birokrasi alot. Sehingga pindah ke lahan pribadi kemungkinannya lebih besar. Lahan pribadi itu nantinya dibeli pemerintah. Luasnya tujuh hektare. Lokasinya di utara Desa Candirejo. Cukup untuk membangun 90 rumah warga Dusun Kedung Glatik yang luasnya sekitar lima hektare. Permintaan warga terkait ganti rugi sudah dijabarkan kepada pihak terkait. “Sudah disampaikan, pihak terkait mengatakan akan diganti untung bukan ganti rugi. Bentuknya nanti rumah satu-satu atau rumah susun juga belum tahu. Tapi warga minta rumahnya kalau bisa bertipe A, B, C,” katanya. Tentu warga meminta ganti untung. Sebab, 36 rumah warga Kedung Glatik sudah bersertifikat. Tak hanya rumah, warga juga meminta pemerintah selama dua tahun masih terus memberikan bantuan sembako. Sampai ekonomi warga pulih. Atau warga memberikan pilihan disediakan tanah untuk kembali menjadi petani. Saat ini, baru tahap pengukuran dusun yang terdampak. Masih ada pengukuran lagi. “Kabar masuk ya ketika korona kalau kami akan direlokasi. Pak Ganjar kalau sepedaan ke sini juga bilang begitu. Lain-lainnya belum ada informasi lanjutan,” katanya.

Seperti diketahui, Bendungan Jragung dibangun salah satunya untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi di wilayah Demak dan Kota Semarang. Proyek ini menghabiskan anggaran Rp 2 triliun. Luasnya kurang lebih 624 hektare, dengan luas genangan mencapai 500 hektere. Karena itu, membutuhkan lahan yang besar. Kasubag Pertanahan Setda Kabupaten Semarang Zaenal Arifin mengungkapkan, ada tiga desa yang terdampak proyek Bendungan Jragung. Yakni, Desa Candirejo, Desa Penawangan, Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Semarang Jauhari Mahmud mengatakan, sejauh ini tidak ada masalah ketika warga Dusun Kedung Glatik harus direlokasi. Jauhari menilai itu justru positif. “Sejauh ini kami melihat semuanya baik. Artinya, belum ada indikasi merugikan warga,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang. Ia menegaskan, dewan akan terus mengawal relokasi tersebut. Saat ini, kata dia, sudah tidak ada ganti rugi melainkan ganti untung. Setidaknya tempat tinggal yang baru serupa dengan yang lalu. “Tentu kami DPRD akan terus kawal sampai warga memang mendapatkan ganti yang setara. Jangan malah setelah ini warga telantar,” tegasnya. Pernah Ditemukan Yoni di Kedung Glatik Dusun Kedung Glatik yang akan ditenggelamkan untuk pembangunan Bendungan Jragung ternyata menyimpan bukti sejarah. Di dusun ini, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang pernah menemukan bagian struktur candi berupa yoni.

Ketua TACB Kabupaten Semarang Tri Subekso menceritakan, pada 2013, Pamong Budaya sudah melakukan tinjauan lapangan dan melakukan pendataan di sana. Ditemukan yoni di situs Kedungsobrah. Yoni merupakan bagian dari kelengkapan bangunan pemujaan masyarakat Hindu Saiwa. Usia dari yoni tersebut sekitar abad ke-8 sampai 15 Masehi. “Betul, sehingga kemarin ketika ada info mau dibuat bendungan kami langsung cek ke lapangan,” ungkapnya, Kabupaten Semarang. Subekso melanjutkan, setelah dilakukan cek lokasi, yoni sudah diamankan oleh penduduk setempat. TACB melalui Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang akan melakukan koordinasi dengan beberapa instansi terkait. Antara lain, melibatkan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah dan tentunya leading sector yang menangani proyek pembangunan bendungan. Diharapkan nanti akan diperoleh langkah penanganan yang terbaik. Namun untuk keperluan mendesak, akan dilakukan pendataan dan pengamanan lokasi situs agar data arkeologi tetap terjaga dengan baik dan tidak hilang. “Tentu kami akan melakukan pendataan pertama. Selanjutnya bisa dimungkinkan ketika pengerjaan kami pun akan ikut memonitor karena dari tahun yang lalu sudah pernah ditemukan situs,” katanya.

Leave a Reply