UNESCO belum lama ini menetapkan tiga cagar biosfer baru di Indonesia. Dua di antaranya di Jawa Tengah, yaitu Cagar Biosfer Karimunjawa Jepara Muria dan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh.

Sedangkan satu lagi, Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa. Bagaimana dampaknya terhadap Jawa Tengah, apakah masyarakat diuntungkan dengan penetapan itu?

”Banyak untungnya. Lingkungan pasti diuntungkan, karena harus kita jaga. Dengan penetapan itu kita semua, baik pemerintah, maupun masyarakat, mau tidak mau harus menjaga lingkungan. Karimun Jawa misalnya, yang dikembangkan sebagai wisata laut, pengembangannya harus ramah lingkungan, ” tandas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Widi Hartanto.

Cagar Biosfer menurut Widi merupakan suatu konsep pengelolaan sumber daya alam yang mengedepankan keselarasan antara kepentingan konservasi dan kepentingan ekonomi. Dengan kata lain, cagar biosfer menjadi salah satu implementasi pembangunan berkelanjutan. Inisiasi pengusulan nominasi Cagar Biosfer di Jawa Tengah menurut Widi, dimulai sejak 2018, dan dinominasikan pada 2019. ”Awalnya hanya Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh yang diusulkan. Namun berdasar riset LIPI dan kesepakatan para pihak, usulan berkembang, dengan tambahan Cagar Biosfer Karimunjawa Jepara Muria, ” terang dia.

Cagar Biosfer Karimunjawa Jepara Muria dengan luas 1.236.083,97 ha meliputi Kabupaten Jepara, termasuk Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Pati. Sedangkan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh seluas 254.876,75 ha, meliputi Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, Klaten, Purworejo, Kota Magelang, dan Kota Salatiga. Kawasan itu juga mencakup Sleman dan Kulonprogo DIY. ”Itu merupakan harmonisasi kehidupan, antara konservasi lingkungan, budaya, dan ekonomi agar bisa berjalan dengan baik. UNESCO melihat potensi itu. Selama ini juga sudah jalan.

Dengan penetapan itu, keuntungannya, semakin dikenal dunia internasional. Kita sangat kaya, komposisi alam, produk budaya, dan kearifan lokal. Semua diuntai jadi satu kesatuan yang harmonis , ” ujar Widi.

Tak Mudah

Memang tidak mudah mewujudkan komitmen tersebut. Tantangan yang dihadapi adalah tekanan kebutuhan lahan untuk kepentingan ekonomi yang berpotensi mengubah bentang alam dan kualitas tutupan lahan, serta budaya masyarakat yang belum ramah lingkungan. Dengan mempertahankan cagar biosfer itu, kawasan yang memiliki keunikan ekosistem, menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Mengisi liburan dengan menikmati keindahan cagar biosfer di berbagai belahan dunia bisa belakangan jadi hal yang banyak dilirik pelancong. Selain bisa menikmati pemandangan yang indah, pelancong juga bisa belajar dan tahu banyak tentang keanekaragaman alam yang dilindungi, baik flora dan fauna, lautan luas, dan hutan-hutan tropis menghijau lengkap keanekaragamanan ekosistem yang tumbuh, serta keanekaragaman biota laut, hutan. Itu merupakan cagar biosfer yang menjadi nilai tambah bagi Jawa Tengah. ”Penetapan cagar biosfer ini memotivasi kita untuk menjaga lingkungan jangan sampai rusak, ” kata Widi.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara Farikha Elida menyampaikan, cagar biosfer adalah suatu kawasan ekosistem yang keberadaannya diakui dunia internasional. Keberadaan cagar biosfer bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara melestarikan keanekaragaman hayati, serta pembangunan ekonomi dan kebudayaan. Pengajuan Karimunjawa-Jepara- Muria menjadi cagar biosfer telah drintis Pemkab Jepara sejak tahun 2017 lalu. Pemkab mengajukan Karimunjawa dan Muria yang menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Jepara menjadi cagar biosfer dengan berbagai pertimbangan dan latar belakang, seperti kondisi fisik alamiah, konsisi sosial budaya, kondisi demografi, rencana tata ruang wilayah (RTRW), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), pertumbuhan ekonomi, serta sarana dan prasarana. ”Awalnya kami mengajukan Karimunjawa-Jepara-Muria ini sebagai cagar biosfer dengan tujuan agar alam Karimunjawa dan Muria dengan ekosistem di dalamya benar-benar terjaga, ” ungkap Elida.

Kekayaan alam Jepara selama ini telah terepresentasikan dari Karimunjawa. Namun, Jepara juga memiliki kekayaan alam berupa pegunungan yang masuk dalam Kawasan Muria. Oleh karena itu Karimunjawa dan Muria beserta kekayaan alam dengan sistem ekologi di dalamnya layak menjadi cagar biosfer. Sementara untuk Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Perbukitan Menoreh dipilih karena syarat cagar biosfernya dianggap terpenuhi.

Antara lain memiliki keunikan biodiversity, biogeografi, kultur, serta ekosistem. Flora dan fauna yang unik untuk menjadi cagar biosfer juga harus memiliki potensi pengembangan berkelanjutan serta sumber daya logistik dan riset memadai. Sekda Kabupaten Magelang, Adi Waryanto, menyambut baik hal tersebut. “Secara ekologi penetapan kawasan tersebut menjadi cagar biosfer, tentu mendukung langkah Kabupaten Magelang dalam meningkatkan daya saing daerah yang berbasis pada potensi lokal dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup,” ungkapnya, Kamis (5/11).

Menurut Adi, kawasan ini merupakan lanskap sistem penyangga kehidupan yang sangat penting bagi masyarakat di sekitarnya. “Dengan penetapan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh, akan menjadi perhatian semua pihak, untuk memperhatikan terkait dengan aspek lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim dalam melaksanakan kegiatan pembangunan,” imbuhnya. Adi berharap dengan dijadikannya Cagar Biosfer di kawasan Merapi, Merbabu, dan Menoreh bisa menguntungkan bagi semua pihak khususnya Kabupaten Magelang.

Leave a Reply