Kota-kota besar di Indonesia masih mengalami permasalahan dengan sampah, seperti Jakarta yang masyarakatnya diperkirakan memproduksi sampah hingga 6.000 ton per hari.

Berbagai kampanye untuk mengurangi sampah tampaknya tidak terlalu efektif untuk membangun kesadaran masyarakat. Ajakan untuk melakukan 3R yaitu “reduce” (mengurangi), “reuse” (menggunakan kembali) dan “recycle” (mendaur ulang) belum banyak dilakukan masyarakat.

Rumah tangga yang dengan kesadaran sendiri memilah sampah pun belum efektif karena sampah kembali dicampur aduk oleh tukang sampah. Karena itu, perlu sebuah sistem terpadu mulai dari rumah tangga hingga pengangkutan di tempat pembuangan sampah akhir agar pemilahan sampah bisa efektif.

Namun, tingkat rumah tangga masih menjadi kunci utama untuk mengurangi timbunan sampah. Idealnya, rumah tangga bukan hanya perlu memilah sampah, tetapi juga mengurangi sampah dengan mengolah sampah baik organik maupun anorganik.

Mengolah sampah organik menjadi kompos merupakan salah satu alternatif yang bisa dilakukan. Beberapa kelompok masyarakat sudah mulai melakukan pengomposan dengan menggunakan bakteri. Namun, pengomposan menggunakan bakteri memerlukan tenaga dan waktu yang lebih banyak karena harus diaduk secara berkala.

Selain menggunakan bakteri, pengomposan juga bisa menggunakan cacing tanah seperti yang dilakukan Arif Supriyadi dari Kerajaan Cacing.

“Alam sudah memberikan contoh bagaimana cacing mengurai bahan organik. Mengapa kita tidak memanfaatkan cacing?” katanya.

Selain membantu mengolah sampah, Arif mengatakan penggunaan cacing juga memberi nilai tambah terhadap hasil kompos dan cacing yang dibudidaya. Kompos maupun cacing yang berkembang biak bisa dijual.

Cacing Komposter Arif mengatakan ada dua macam cacing, yaitu cacing “earth mover” dan cacing komposter. Cacing “earth mover” memiliki tekstur tubuh yang lebih liat dan keras, biasanya hidup hingga dua meter di bawah permukaan tanah dan menyendiri.

Sedangkan cacing komposter memiliki tekstur tubuh yang lebih lunak dan biasanya hidup pada bahan-bahan organik yang membusuk pada kedalaman 30 centimeter di atas permukaan tanah serta biasanya berkelompok.

“Cacing komposter ini yang kita manfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos,” jelasnya.

Menurut Arif, semua jenis bahan organik bisa diolah menjadi kompos oleh cacing komposter baik kotoran ternak hingga sampah rumah tangga. Bila tujuannya untuk mengembangbiakan cacing, kotoran sapi merupakan makanan terbaik bagi cacing.

“Bila menggunakan kotoran sapi sebagai makanan, cacing bisa lebih besar dan gemuk. Bila menggunakan sampah organik rumah tangga, ukuran cacing lebih kecil. Namun, menurut teman-teman saya penghobi tanaman, kompos dari sampah organik rumah tangga lebih bagus kandungannya,” tuturnya.

Apa yang pertama kali diperlukan untuk mulai mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos? Arif mengatakan yang pertama diperlukan adalah wadah sebagai tempat hidup cacing.

Dia menyarankan menggunakan barang-barang bekas sebagai wadah misalnya ember atau kotak kontainer. Bila di rumah tidak ada wadah bekas, Arif menyarankan untuk membeli di pengepul barang bekas.

Selain karena alasan memanfaatkan barang yang tidak terpakai, penggunaan barang bekas juga lebih baik karena wadah plastik baru biasanya menimbulkan bau yang tidak disukai cacing.

“Kalau pun menggunakan wadah plastik baru, lebih baik ditaburi tanah dulu beberapa lama agar baunya hilang. Bisa juga menggunakan kotak kayu, tetapi perlu tenaga lagi untuk membuatnya,” katanya.

Bila wadah sudah tersedia, langkah selanjutnya adalah mencari bibit cacing dan media hidupnya. Cacing bisa dicari di tanah yang mengandung bahan-bahan organik. Media hidup cacing yang disarankan adalah limbah media tanam jamur, “coco peat” atau campurannya. Bisa juga menggunakan pupuk kompos yang dibeli di toko tanaman.

“Namun, mencari cacing di alam dalam jumlah banyak tentu menyulitkan. Cacing bisa dibeli di Kerajaan Cacing. Satu kilogram cacing dengan media hidupnya bisa dibeli dengan harga Rp100 ribu,” katanya.

Setelah wadah, cacing dan media hidup tersedia yang dibutuhkan berikutnya adalah sampah organik. Untuk tingkat rumah tangga, semua sampah organik yang ada di rumah seperti sisa sayuran dan buah-buahan hingga makanan yang tidak termakan bisa dimanfaatkan.

Sampah-sampah organik itu dituang ke dalam wadah, kemudian tutup dengan media hidup cacing. Setelah itu, taburkan cacing di bagian paling atas. Satu kilogram cacing bisa digunakan untuk tiga hingga empat kotak kontainer ukuran sedang.

Arif mengatakan cacing tidak bisa langsung mengurai sampah organik karena biasanya mengeluarkan gas dan panas. Karena itu perlu ada media hidup agar cacing bisa hidup dan beradaptasi terlebih dahulu sebelum mulai mengurai sampah organik.

Setelah cacing bekerja mengolah sampah organik, sampah dan media hidupnya tidak perlu diaduk-aduk seperti halnya pengomposan menggunakan bakteri.

“Cukup diperiksa apakah sampah organik yang merupakan bahan makanan cacing masih ada atau tidak. Bila seluruh sampah sudah terurai, maka perlu ditambahkan sampah organik lagi,” tuturnya.

Apakah proses pengomposan tidak menimbulkan bau? Menurut Arif, bau hanya akan muncul pada saat pengumpulan sampah organik yang sudah mulai membusuk. Begitu sampah organik ditimbun dengan media hidup cacing, baunya akan tertutup.

Selain memeriksa apakah masih ada sampah organik, jumlah cacing di dalam wadah juga perlu diperiksa agar populasinya tidak terlalu padat. Bila jumlah cacing dalam satu wadah sudah cukup banyak, sebaiknya mulai disiapkan wadah lainnya.

Begitu pula bila media hidup dan sampah organik yang sudah menjadi kompos, atau Arif menyebutnya dengan pupuk bekas cacing atau pupuk kascing, sudah terlalu banyak. Kedalaman pupuk kascing di dalam wadah perlu dijaga tidak lebih dari 30 centimeter.

Masa Panen Arif mengatakan pupuk kascing bisa dipanen setelah seluruh sampah organik terurai. Namun, sebaiknya tidak seluruh pupuk kascing dipanen karena cacing masih memerlukan media untuk hidup.

“Selain dimanfaatkan untuk tanaman di rumah atau dijual, pupuk kascing juga bisa digunakan sebagai media hidup cacing di wadah yang lain,” ujarnya.

Bagaimana dengan cacingnya? Arif mengatakan cacing bisa dimanfaatkan sebagai pakan burung atau umpan pancing. Karena itu, cacing bisa dijual ke penghobi burung maupun mancing. Biasanya harga pasaran cacing di kisaran Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.

Selain itu, cacing juga bisa dijual sebagai bahan baku obat herbal. Namun, perlu pengolahan lebih lanjut bila cacing ingin dijual sebagai bahan baku obat.

Cacing perlu dipindahkan ke media ampas tahu untuk menghilangkan sampah organik yang mereka olah di tubuhnya. Setelah cacing berwarna lebih cerah karena sudah tidak ada lagi kandungan tanah di tubuhnya, baru cacing bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

“Pertama, cacing dimasukan ke dalam air mendidih supaya mati. Setelah itu angkat dari air dan dijemur sampai kering. Cacing bisa langsung dijadikan obat setelah dimasukan ke dalam kapsul,” tuturnya.

Cacing bisa digunakan sebagai obat beberapa macam penyakit seperti typus, demam berdarah dan jantung.

“Biasanya yang membeli adalah sinshe atau praktisi pengobatan alternatif. Mereka lebih suka membeli cacing kering tanpa kapsul untuk memastikan kandungannya hanya cacing,” katanya.

Menurut Arif, penjualan cacing sebagai bahan baku obat herbal memiliki pasar sendiri. Dia mengakui kerap kali tidak bisa memenuhi permintaan yang cukup banyak. Yang penting harus dilakukan adalah membuat jaringan dengan pembudidaya cacing dan melakukan komunikasi untuk memasarkan.

Skala Besar Arif mengatakan pengomposan menggunakan cacing bisa dilakukan dalam skala besar untuk mengatasi permasalahan sampah di kota-kota besar. Namun, dia tidak menyarankan itu dilakukan di tempat-tempat pembuangan sampah akhir maupun terpadu seperti Bantargebang.

“Karena kalau sudah di Bantargebang, sampah sudah tercampur antara organik dan anorganik. Untuk memisahkannya tentu memerlukan tenaga dan biaya lagi,” jelasnya.

Karena itu, dia menyarankan pengomposan menggunakan cacing ini dilakukan di tingkat yang lebih kecil, yaitu rumah tangga atau tingkat permukiman dengan syarat masyarakatnya mau memilah sampah.

Pengomposan menggunakan cacing juga bisa dilakukan di tempat pembuangan sampah sementara yang ada di pasar-pasar tradisional. Pasalnya, di pasar-pasar tradisional banyak bahan organik yang terbuang dan bisa diolah.

“Semua pedagang di pasar bisa diwajibkan untuk mengumpulkan sampahnya. Untuk memotivasi mereka, barangkali bisa diberikan insentif bila mereka menyerahkan sampah organik untuk diolah menjadi kompos,” katanya.

Leave a Reply