Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening menilai saat ini tata kelola sampah di Kabupaten Semarang bisa dikatakan tergolong kritis. Apabila tidak disikapi dengan serius, maka pihaknya khawatir kedepannya akan banyak warga yang membuang sampah sembarangan di kebun kosong, cekungan lahan, dan di sepanjang aliran sungai.

 

“Beberapa desa sudah menjadi area pembuangan sampah darurat. Mulai di kebun kosong, aliran sungai, dan di cekungan lahan,” katanya, Selasa (9/3).

Sampah yang tidak dikelola dengan baik, lanjut Bondan, bisa menimbulkan genangan bahkan banjir akibat aliran sungai yang tersumbat sampah. Agar tidak semakin parah, ia meminta masing-masing pemerintah desa untuk ikut bertanggungjawab disamping mengalokasikan anggaran melalui APBDes.

“Dengan begitu, ke depannya ketika butuh penanganan bencana akibat sampah tidak bingung. Kami pun sudah mengusulkan Pemkab Semarang memperbanyak Tempat Pembuangan Sampah reduce reuse recycle (TPS 3R). Melalui sarana dan fasilitas ini, harapannya dapat mengurangi sampah yang masuk ke TPA Blondo, Bawen,” papar dia.

Terpisah, Plt Kepala DLH Kabupaten Semarang, Wiwoho menyebutkan bila volume timbunan sampah di Bumi Serasi setiap harinya rata-rata mencapai 520 ton. Total volume tersebut, yang terangkut menuju TPA Blondo, Bawen lebih kurang hanya 170 ton/hari.

“Kendala kami diantaranya terkait jumlah truk pengangkut sampah. Dari 25 unit, 7 kendaraan diantaranya buatan 1997,” ungkapnya.

Belum lagi terkait jumlah tenaga pengangkut yang hanya 98 orang, artinya mereka harus melayani 136 titik TPS se-Kabupaten Semarang. “Sehingga berdampak pada terjadinya antrian pelayanan, apalagi kalau letak TPS di perbatasan wilayah,” beber Wiwoho.

Melihat kondisi volume sampah yang tidak sepenuhnya bisa terangkut menuju TPA, dirinya merinci, idealnya DLH Kabupaten Semarang butuh 60 unit hingga 65 unit kendaraan pengangkut sampah. Demikian halnya dengan staf tenaga kebersihan, paling tidak perlu ditambah sekitar 90 orang.

“Diperlukan juga mobil towing untuk membantu mobilitas alat berat di TPA. Sehingga, kalau ada sampah yang menumpuk bisa diangkat dengan alat berat. Tentu lebih efisien dibandingkan bila tumpukan sampah itu dinaikkan oleh dua orang petugas ke truk pengangkut sampah,” tutur dia.

Leave a Reply